Kurikulum Humanistik
Pengertian Kurikulum Humanistik
Munculnya teori
pendidikan empiristik merupakan cikal bakal dari munculnya pendidikan humanis
yang kemudian diikuti dengan kemunculan kurikulum humanistik, hal ini
dikarenakan sama-sama mengakui bahwa dalam setiap diri manusia tedapat potensi,
dan potensi itulah yang akan dikembangkan melalui pendidikan. Pendidikan
humanistik merupakan model pendidikan yang berorientasi dan memandang manusia
sebagai manusia (humanisasi), yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrahnya.
Maka manusia sebagai makhluk hidup, ia harus mampu melangsungkan,
mempertahankan, dan mengembangkan hidupnya. Maka posisi pendidikan dapat
membangun proses humanisasi, artinya menghargai hak-hak asasi manusia, seperti
hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak untuk menyuarakan kebenaran,
hak untuk berbuat kasih sayang, dan lain sebagainya.
Pendidikan humanistik
diharapkan dapat mengembalikan peran dan fungsi manusia yaitu mengembalikan
manusia kepada fitrahnya sebagai sebaik-baik makhluk (khairu ummah). Maka,
manusia “yang manusiawi” yang dihasilkan oleh pendidikan yang humanistik
diharapkan dapat mengembangkan dan membentuk manusia berpikir, berasa,
berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang dapat
mengganti sifat individualistik, egoistik, egosentrik dengan sifat kasih sayang
kepada sesama manusia, sifat menghormati dan dihormati, sifat ingin memberi dan
menerima, sifat saling menolong, sifat ingin mencari kesamaan, sifat menghargai
hak-hak asasi manusia, sifat menghargai perbedaan dan sebagainya.
Seperti yang telah
diuraikan diatas, bahwa kurikulum humanistik berawal dari aliran pendidikan
empiristik kemudian lahirlah pendidikan humanis dan lahir pula kurikulum
humanistik, sehingga kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli
pendidikan humanis, yang mana kurikulum ini berdasarkan konsep aliran
pendidikan pribadi (Personalized
Education) yaitu Jhon Dewey (Progressive
Education) dan J.J. Rousseau (Romantic
Education), aliran ini lebih memberikan tempat kepada siswa, artinya bahwa
aliran ini beranggapan bahwa manusia adalah yang pertama dan utama dalam
pendidikan, manusia adalah subyek sekaligus obyek dalam pendidikan, dan juga
manusia memiliki potensi, kekuatan dan kemampuan dalam dirinya, bukan seperti
yang dikatakan oleh para nativistik bahwa manusia tak ubahnya gelas kosong yang
harus diisi oleh guru. Para humanis juga menganggap bahwa manusia atau individu
merupakan suatu kesatuan yang utuh dan menyeluruh (gestalt), sehingga
pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan hanya segi fisik
dan intelektual, tetapi juga segi sosial dan afektif. Sehingga dalam pendidikan
humanistik meniscayakan akan terbangunnya suasana yang rileks, permissive, dan
akrab, sehingga siswa dapat mengembangkan segala potensi yang ada dalam
dirinya.
konsep
dasar kurikulum humanistik
konsep dasar kurikulum humanistik
Konsep kurikulum
humanistik lebih mengarah pada kurikulum yang dapat mengaktualisasikan dirinya
sesuai dengan potensi dan keunikan masing-masing. Dalam kurikulum humanistik,
guru diharapkan dapat membangun hubungan emosional yang baik dengan peserta
didiknya untuk perkembangan individu peserta didik itu selanjutnya. Pendekatan
humanistik tampak terutama dalam proses interaksi dalam kelas, dalam suasana
belajar, dan dalam cara menyajikan pelajaran, jadi bukan dalam orientasi
falsafahnya. Oleh karena itu, peran guru yang diharapkan adalah sebagai
berikut:
1.
Mendengar pandangan realitas peserta didik secara komprehensif.
2.
Menghormati individu peserta didik.
3.
Tampil alamiah, otentik, dan tidak dibuat-buat.
Dalam pendekatan humanistik, peserta didik diajar untuk membedakan hasil
berdasarkan maknanya. Para pendidik humanistik yakin bahwa kesejahteraan mental
dan emosional siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum. Prioritasnya
adalah pengalaman belajar yang diarahkan pada tanggapan minat, kebutuhan, dan
kemampuan anak.
Guru-guru humanistik memotivasi siswanya melalui rasa saling percaya.
Mengikutsertakan dalam penyelenggaraan kelas dan keputusan instruksional, turut
serta dalam pembuatan, pelaksanaan, dan pengawasan peraturan sekolah.
Memperbolehkan memilih kegiatan belajar dan boleh membuktikan hasil belajarnya
melalui berbagai macam karya atau kegiatan, dan mereka juga harus turut
bertanggung jawab atas pelaksanaan keputusan bersama. Selain itu guru
humanistik tidak boleh memaksa siswanya untuk melakukan sesuatu yang mereka
tidak mau mengerjakan.
Pada kurikulum ini, guru diharapkan mengetahui respon peserta didik
terhadap kegiatan mengajar. Guru juga diharapkan mengamati apa yang sudah
dilakukannya, untuk melihat umpan balik setelah kegiatan belajar dilakukan.
Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini adalah beberapa acuan dalam
kurikulum humanistik:
1.
Integrasi
sesuai domain afeksi peserta didik,
yaitu emosi, sikap, dan nilai-nilai dengan domain
kognisi, yaitu kemampuan dan pengetahuan. Agar integrasi tersebut dapat
terjadi, menurut Shapiro kurikulum harus terdiri atas berbagai elemen berikut:
·
Partisipasi
·
Integrasi,
interaksi, perasaan, dan kegiatan
·
Relevan
dengan kebutuhan hidup
·
Pribadi
·
Tujuan
sosial untuk membangun keutuhan pribadi dan lingkungan masyarakat
2.
Kesadaran
dan kepentingan.
3.
Respon
terhadap ukuran tertentu, seperti kedalaman suatu keterampilan. Oleh karena
itu, kurikulum humanistik perlu mempertimbangkan motivasi untuk pencapaian
hasil dan minat peserta didik.
Pendekatan humanistik dalam kurikulum didasarkan atas asumsi-asumsi
berikut:
1.
Siswa
akan lebih giat belajar dan bekerja bila harga dirinya dikembangkan sepenuhnya.
2.
Siswa
yang diturutsertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran akan merasa
bertanggung jawab atas keberhasilannya.
3.
Hasil
belajar akan meningkat dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa saling
mempercayai, saling membantu, saling memperdulikan, dan bebas ketegangan yang
berlebihan.
4.
Guru yang
berperan sebagai fasilitator belajar memberi tanggung jawab kepada siswa atas
kegiatannya belajar dan memupuk sikap positif terhadap ‘apa sebab’ dan
‘bagaimana’ mereka belajar.
5.
Kepedulian
siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalam penguasaan bahan pelajaran
itu.
6.
Evaluasi
diri bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa harga diri.
Aliran-Aliran
Pendidikan Humanistik
Ada beberapa aliran
yang termasuk dalam pendidikan humanis, yaitu pendidikan konfluen, kritikisme
Radikal, dan Mistikisme Modern.
Ø Kurikulum
konfluen dikembangkan oleh para ahli pendidikan konfluen yang ingin menyatukan
segi-segi afektif (sikap, perasaan, nilai) dengan segi-segi kognitif dan
pendidikan konfluen menekankan keutuhan pribadi, individu harus merspons secara
utuh, akan tetapi pendidikan konfluen kurang menekankan pengetahuan yang
mengandung segi afektif, menurut mereka kurikulum tidak menyiapkan pendidikan
tentang sikap, perasaan, dan nilai yang harus dimiliki murid-murid, kurikulum
hendaknya mempersiapkan berbagai alternatif yang dapat dipilih murid-murid
dalam proses bersikap dan berperasaan dan memberi pertimbangan nilai, yaitu dengan
mengajak siswa untuk menyatakan pilihan dan mempertanggung jawabkan sikap-sikap,
perasaan-perasaan dan pertimbangan nilai yang telah dipilihnya. Ada beberapa
ciri kurikulum konfluen diantaranya adalah:
·
Partisipasi, kurikulum ini menekankan
partisipasi murid dalam belajar, kegiatan belajar adalah belajar bersama.
·
Integrasi, melalui partisipasi dalam
berbagai kegiatan kelompok terjadi interaksi, interpenetrasi, dan integrasi
dari pemikiran, perasaan, dan juga tindakan.
·
Relevansi, kurikulum berupaya melakukan
kontekstualisasi dengan kebutuhan di zamannya, dan juga kebutuhan siswa baik
minat dan bakat.
·
Pribadi anak, kurikulum ini juga
berupaya mengakomodasi dan menempatkan siswa di posisi utama, sehingga siswa
dapat mengembangkan danb mengaktualisasikan segala potensi dirinya.
·
Tujuan, pendidikan ini bertujuan
mengembangkan pribadi yang utuh, yang serasi dengan dirinya maupun lingkungan.
Dasar kurikulum
konfluen adalah psikologi gestalt. Begitu juga prinsip pengajarannya menerapkan
terapi gestalt yang menekankan keterbukaan, kesadaran, keunikan, kesatuan dan
keseluruhan dan tanggung jawab pribadi.
Ø Kritikisme
Radikal bersumber dari aliran naturalisme atau romantisme Rousseau, mereka
memandang pendidikan sebagai upaya untuk membantu anak menemukan dan mengembangkan
sendiri segala potensi yang dimilikinya.
Ø Sedangkan
Mistikisme Modern adalah aliran yang menekankan latihan dan pengembangan
kepekaan perasaan, kehalusan budi pekerti, melalui sensitivity training, yoga,
meditasi, dan sebagainya.
Karakteristik
Kurikulum Humanistik
Kurikulum humanistik
memiliki beberapa karakteristik yang tidak lepas dari karakteristik pendidikan
humanis, diantaranya adalah:
· Adanya
hubungan yang harmonis antara guru dan siswa
Untuk membangun
suasana belajar yang baik, hubungan antara guru dan siswa harus pula dibangun
seharmonis mungkin, sehingga guru tidak terkesan menakutkan, karena pengaruh
psikis sangat mempengaruhi daya tangkap siswa dalam belajar, jika kita lihat
fenomena pembelajaran disekolah, ada istilah guru killer ataupun dosen killer,
ini merupakan bukti bahwa ternyata masih ada dalam proses pembelajaran yang
mana guru atau dosen yang ditakuti oleh para siswa atau mahasiswa, dan
berimplikasi terhadap daya tangkap siswa.
· Integralistik
Maksudnya adalah
dalam kurikulum humanistik menekankan kesatuan perilaku bukan saja yang
bersifat intelektual ( Kognitif) tetapi juga emosional dan tindakan, ini
merupakan komitment dari pendidikan humanis yang mana berupaya untuk
mengembalikan pendidikan kepada realitas sosial.
· Totalitas
Maksudnya adalah
kurikulum humanistik harus mampu memberikan pengalaman yang menyeluruh
(totalitas) , bukan terpenggal-penggal (parsial).
· Model
Evaluasi tidak ada kriteria pencapaian
Seperti yang
dijelaskan diatas bahwa kurikulum menekankan totalitas, oleh karena itu dalam
model evaluasi yang dilakukan tidak ada kriteria pencapaian, karena kurikulum
ini lebih menekankan proses bukan hasil, jika kita melihat fenomena UNAS dalam
pendidikan kita di Indonesia, kriteria pencapaian yang diformat dalam UNAS sangat
tidak humanis, karena hanya menitik beratkan kepada aspek kognitif sehingga
keberhasilan pendidikan hanya di nilai dari angka bukan sikap, walaupun dalam
KTSP format penilaian menggunakan aspek sikap. Tentunya hal ini bertentangan
dengan pendidikan humanis yang berorientasi terhadap pengembangan potensi
manusia.


0 komentar