Kurikulum Humanistik

by - 09.51



  • Pengertian Kurikulum Humanistik
  • Konsep Dasar Kurikulum Humanistik
  • Aliran-Aliran Kurikulum Humanistik
  • Karakteristik Kurikulum Humanistik
    Pengertian Kurikulum Humanistik
    Munculnya teori pendidikan empiristik merupakan cikal bakal dari munculnya pendidikan humanis yang kemudian diikuti dengan kemunculan kurikulum humanistik, hal ini dikarenakan sama-sama mengakui bahwa dalam setiap diri manusia tedapat potensi, dan potensi itulah yang akan dikembangkan melalui pendidikan. Pendidikan humanistik merupakan model pendidikan yang berorientasi dan memandang manusia sebagai manusia (humanisasi), yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrahnya. Maka manusia sebagai makhluk hidup, ia harus mampu melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidupnya. Maka posisi pendidikan dapat membangun proses humanisasi, artinya menghargai hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak untuk menyuarakan kebenaran, hak untuk berbuat kasih sayang, dan lain sebagainya.
    Pendidikan humanistik diharapkan dapat mengembalikan peran dan fungsi manusia yaitu mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai sebaik-baik makhluk (khairu ummah). Maka, manusia “yang manusiawi” yang dihasilkan oleh pendidikan yang humanistik diharapkan dapat mengembangkan dan membentuk manusia berpikir, berasa, berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang dapat mengganti sifat individualistik, egoistik, egosentrik dengan sifat kasih sayang kepada sesama manusia, sifat menghormati dan dihormati, sifat ingin memberi dan menerima, sifat saling menolong, sifat ingin mencari kesamaan, sifat menghargai hak-hak asasi manusia, sifat menghargai perbedaan dan sebagainya.
    Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa kurikulum humanistik berawal dari aliran pendidikan empiristik kemudian lahirlah pendidikan humanis dan lahir pula kurikulum humanistik, sehingga kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanis, yang mana kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi (Personalized Education) yaitu Jhon Dewey (Progressive Education) dan J.J. Rousseau (Romantic Education), aliran ini lebih memberikan tempat kepada siswa, artinya bahwa aliran ini beranggapan bahwa manusia adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan, manusia adalah subyek sekaligus obyek dalam pendidikan, dan juga manusia memiliki potensi, kekuatan dan kemampuan dalam dirinya, bukan seperti yang dikatakan oleh para nativistik bahwa manusia tak ubahnya gelas kosong yang harus diisi oleh guru. Para humanis juga menganggap bahwa manusia atau individu merupakan suatu kesatuan yang utuh dan menyeluruh (gestalt), sehingga pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan hanya segi fisik dan intelektual, tetapi juga segi sosial dan afektif. Sehingga dalam pendidikan humanistik meniscayakan akan terbangunnya suasana yang rileks, permissive, dan akrab, sehingga siswa dapat mengembangkan segala potensi yang ada dalam dirinya.

    konsep dasar kurikulum humanistik
    konsep dasar kurikulum humanistik
    Konsep kurikulum humanistik lebih mengarah pada kurikulum yang dapat mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan potensi dan keunikan masing-masing. Dalam kurikulum humanistik, guru diharapkan dapat membangun hubungan emosional yang baik dengan peserta didiknya untuk perkembangan individu peserta didik itu selanjutnya. Pendekatan humanistik tampak terutama dalam proses interaksi dalam kelas, dalam suasana belajar, dan dalam cara menyajikan pelajaran, jadi bukan dalam orientasi falsafahnya. Oleh karena itu, peran guru yang diharapkan adalah sebagai berikut:
    1.      Mendengar pandangan realitas peserta didik secara  komprehensif.
    2.      Menghormati individu peserta didik.
    3.      Tampil alamiah, otentik, dan tidak dibuat-buat.
    Dalam pendekatan humanistik, peserta didik diajar untuk membedakan hasil berdasarkan maknanya. Para pendidik humanistik yakin bahwa kesejahteraan mental dan emosional siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum. Prioritasnya adalah pengalaman belajar yang diarahkan pada tanggapan minat, kebutuhan, dan kemampuan anak.
    Guru-guru humanistik memotivasi siswanya melalui rasa saling percaya. Mengikutsertakan dalam penyelenggaraan kelas dan keputusan instruksional, turut serta dalam pembuatan, pelaksanaan, dan pengawasan peraturan sekolah. Memperbolehkan memilih kegiatan belajar dan boleh membuktikan hasil belajarnya melalui berbagai macam karya atau kegiatan, dan mereka juga harus turut bertanggung jawab atas pelaksanaan keputusan bersama. Selain itu guru humanistik tidak boleh memaksa siswanya untuk melakukan sesuatu yang mereka tidak mau mengerjakan.
    Pada kurikulum ini, guru diharapkan mengetahui respon peserta didik terhadap kegiatan mengajar. Guru juga diharapkan mengamati apa yang sudah dilakukannya, untuk melihat umpan balik setelah kegiatan belajar dilakukan. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini adalah beberapa acuan dalam kurikulum humanistik:
    1.      Integrasi sesuai domain afeksi peserta didik, yaitu emosi, sikap, dan nilai-nilai dengan domain kognisi, yaitu kemampuan dan pengetahuan. Agar integrasi tersebut dapat terjadi, menurut Shapiro kurikulum harus terdiri atas berbagai elemen berikut:
    ·         Partisipasi
    ·         Integrasi, interaksi, perasaan, dan kegiatan
    ·         Relevan dengan kebutuhan hidup
    ·         Pribadi
    ·         Tujuan sosial untuk membangun keutuhan pribadi dan lingkungan masyarakat
    2.      Kesadaran dan kepentingan.
    3.      Respon terhadap ukuran tertentu, seperti kedalaman suatu keterampilan. Oleh karena itu, kurikulum humanistik perlu mempertimbangkan motivasi untuk pencapaian hasil dan minat peserta didik.
    Pendekatan humanistik dalam kurikulum didasarkan atas asumsi-asumsi berikut:
    1.      Siswa akan lebih giat belajar dan bekerja bila harga dirinya dikembangkan sepenuhnya.
    2.      Siswa yang diturutsertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran akan merasa bertanggung jawab atas keberhasilannya.
    3.      Hasil belajar akan meningkat dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa saling mempercayai, saling membantu, saling memperdulikan, dan bebas ketegangan yang berlebihan.
    4.      Guru yang berperan sebagai fasilitator belajar memberi tanggung jawab kepada siswa atas kegiatannya belajar dan memupuk sikap positif terhadap ‘apa sebab’ dan ‘bagaimana’ mereka belajar.
    5.      Kepedulian siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalam penguasaan bahan pelajaran itu.
    6.      Evaluasi diri bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa harga diri.

    Aliran-Aliran Pendidikan Humanistik
    Ada beberapa aliran yang termasuk dalam pendidikan humanis, yaitu pendidikan konfluen, kritikisme Radikal, dan Mistikisme Modern.
    Ø  Kurikulum konfluen dikembangkan oleh para ahli pendidikan konfluen yang ingin menyatukan segi-segi afektif (sikap, perasaan, nilai) dengan segi-segi kognitif dan pendidikan konfluen menekankan keutuhan pribadi, individu harus merspons secara utuh, akan tetapi pendidikan konfluen kurang menekankan pengetahuan yang mengandung segi afektif, menurut mereka kurikulum tidak menyiapkan pendidikan tentang sikap, perasaan, dan nilai yang harus dimiliki murid-murid, kurikulum hendaknya mempersiapkan berbagai alternatif yang dapat dipilih murid-murid dalam proses bersikap dan berperasaan dan memberi pertimbangan nilai, yaitu dengan mengajak siswa untuk menyatakan pilihan dan mempertanggung jawabkan sikap-sikap, perasaan-perasaan dan pertimbangan nilai yang telah dipilihnya. Ada beberapa ciri kurikulum konfluen diantaranya adalah:
    ·         Partisipasi, kurikulum ini menekankan partisipasi murid dalam belajar, kegiatan belajar adalah belajar bersama.
    ·         Integrasi, melalui partisipasi dalam berbagai kegiatan kelompok terjadi interaksi, interpenetrasi, dan integrasi dari pemikiran, perasaan, dan juga tindakan.
    ·         Relevansi, kurikulum berupaya melakukan kontekstualisasi dengan kebutuhan di zamannya, dan juga kebutuhan siswa baik minat dan bakat.
    ·         Pribadi anak, kurikulum ini juga berupaya mengakomodasi dan menempatkan siswa di posisi utama, sehingga siswa dapat mengembangkan danb mengaktualisasikan segala potensi dirinya.
    ·         Tujuan, pendidikan ini bertujuan mengembangkan pribadi yang utuh, yang serasi dengan dirinya maupun lingkungan.
    Dasar kurikulum konfluen adalah psikologi gestalt. Begitu juga prinsip pengajarannya menerapkan terapi gestalt yang menekankan keterbukaan, kesadaran, keunikan, kesatuan dan keseluruhan dan tanggung jawab pribadi.
    Ø  Kritikisme Radikal bersumber dari aliran naturalisme atau romantisme Rousseau, mereka memandang pendidikan sebagai upaya untuk membantu anak menemukan dan mengembangkan sendiri segala potensi yang dimilikinya.
    Ø  Sedangkan Mistikisme Modern adalah aliran yang menekankan latihan dan pengembangan kepekaan perasaan, kehalusan budi pekerti, melalui sensitivity training, yoga, meditasi, dan sebagainya.

    Karakteristik Kurikulum Humanistik
    Kurikulum humanistik memiliki beberapa karakteristik yang tidak lepas dari karakteristik pendidikan humanis, diantaranya adalah:
    ·      Adanya hubungan yang harmonis antara guru dan siswa
    Untuk membangun suasana belajar yang baik, hubungan antara guru dan siswa harus pula dibangun seharmonis mungkin, sehingga guru tidak terkesan menakutkan, karena pengaruh psikis sangat mempengaruhi daya tangkap siswa dalam belajar, jika kita lihat fenomena pembelajaran disekolah, ada istilah guru killer ataupun dosen killer, ini merupakan bukti bahwa ternyata masih ada dalam proses pembelajaran yang mana guru atau dosen yang ditakuti oleh para siswa atau mahasiswa, dan berimplikasi terhadap daya tangkap siswa.
    ·      Integralistik
    Maksudnya adalah dalam kurikulum humanistik menekankan kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual ( Kognitif) tetapi juga emosional dan tindakan, ini merupakan komitment dari pendidikan humanis yang mana berupaya untuk mengembalikan pendidikan kepada realitas sosial.
    ·      Totalitas
    Maksudnya adalah kurikulum humanistik harus mampu memberikan pengalaman yang menyeluruh (totalitas) , bukan terpenggal-penggal (parsial).
    ·      Model Evaluasi tidak ada kriteria pencapaian
    Seperti yang dijelaskan diatas bahwa kurikulum menekankan totalitas, oleh karena itu dalam model evaluasi yang dilakukan tidak ada kriteria pencapaian, karena kurikulum ini lebih menekankan proses bukan hasil, jika kita melihat fenomena UNAS dalam pendidikan kita di Indonesia, kriteria pencapaian yang diformat dalam UNAS sangat tidak humanis, karena hanya menitik beratkan kepada aspek kognitif sehingga keberhasilan pendidikan hanya di nilai dari angka bukan sikap, walaupun dalam KTSP format penilaian menggunakan aspek sikap. Tentunya hal ini bertentangan dengan pendidikan humanis yang berorientasi terhadap pengembangan potensi manusia.

    You May Also Like

    0 komentar